Akhlak Pribadi

Akhlak Pribadi
Oleh: Ibnu Syarif Hidayat*
1. SYAJA’AH

    Syaja’ah artinya berani. Keberanian tidaklah ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa.

Rasulullah SAW bersabda :
“Bukanlah yang dinamakan pemberani itu orang yang kuat bergulat.  
Sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggup menguasai dirinya di  waktu marah.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Bentuk-Bentuk Keberanian :

1. Keberanian menghadapi musuh dalam peperangan (Jihad fii sabilillah)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal 8: 15-16)

2. Keberanian menyatakan kebenaran (kalimah al-haq) sekalipun di hadapan penguasa yang zalim. Rasulullah saw bersabda :

“Jihad yang paling afdhal adalah memperjuangkan keadilan di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

3. Keberanian untuk mengendalikan diri tatkala marah sekalipun dia mampu melampiaskannya-sebagaimana yang sudah disebut dalam hadits di atas.


Sumber Keberanian

1. Rasa Takut Kepada Allah SWT

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah[1222], mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Ahzab 33:39)


2. Lebih Mencintai Akhirat daripada Dunia

Bagi seorang muslim, dunia bukanlah tujuan akhir. Dunia adalah jembatan menuju akhirat.

 “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.”(QS. At-Taubah 9:38)

3. Tidak Takut Mati

Kematian adalah sebuah kepastian. Cepat atau lambat setiap orang pasti mati. Kalau ajal sudah datang tidak ada yang dapat mencegahnya.

Seorang muslim tidak takut mati, apalagi mati dalam jihad. Setiap prajurit Islam pasti mendambakannya. Bagi mereka kematian adalah jalan menuju sorga. Semangat itulah yang menyebabkan para prajurit Islam punya keberanian luar biasa. Panglima Khalid ibn Walid mengatakan kepada pasukan Romawi:

“Kami datang dengan pasukan yang mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

4. Tidak Ragu-Ragu

Rasulullah SAW bersabda: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu, menuju apa-apa yang tidak meragukanmu.” (HR.Tirmidzi dan Nasa’i)

5. Tidak Menomorsatukan Kekuatan Materi

Seorang muslim memang meyakini bahwa kekuatan materi diperlukan dalam perjuangan, tapi materi bukanlah segala-galanya. Di balik itu tetap Allah SWT yang menentukan.

6. Tawakal dan Yakin Akan Pertolongan Allah

Orang yang memperjuangkan kebenaran tidak pernah merasa takut, karena setelah mengerahkan segala tenaga, tinggal dia bertawakkal dan mengharapkan pertolongan dari Allah SWT.

 “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq 65:3)

7. Hasil Pendidikan

Sikap berani lahir dari pendidikan, baik dirumah tangga, sekolah, masjid maupun dari lingkungan. Anak-anak yang diasuh dan dididik oleh orang tua pemberani juga akan tumbuh dan berkembang menjadi pemberani. Demikianlah seterusnya.

Jubun atau Penakut

Lawan dari sifat syaja’ah adalah jubun (al-jubn), yaitu penakut

Allah SWT mencela orang-orang yang takut pergi ke medan perang karena takut menghadapi musuh. Allah berfirman :

 “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : "Tahanlah tanganmu (dari berperang), Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: "Ya Tuhan kami, Mengapa Engkau wajibkan berperang kepada Kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS.An-Nisa’ 4 :77)

2. TAWADHU’

Tawadhu’ artinya rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Orang yang rendah hati tidak memandang dirinya lebih dari orang lain, sementara orang yang sombong menghargai dirinya secara berlebihan. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri, karena rendah diri berarti kehilangan kepercayaan diri.

Sikap tawadhu’ terhadap sesama manusia adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan Kemahakuasaan Allah SWT atas segala hamba-Nya.

Orang yang tawadhu’ menyadari bahwa apa saja yang dia miliki, baik bentuk rupa yang cantik atau tampan, ilmu pengetahuan, harta kekayaan, maupun pangkat dan kedudukan dan lain-lain sebagainya, semuanya itu adalah karunia dari Allah SWT. Allah SWT berfirman :

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl 16:53)

Dengan kesadaran seperti itu sama sekali tidak pantas bagi dia untuk menyombongkan diri kepada sesama manusia, apalagi menyombongkan diri terhadap Allah SWT.

Keutamaan Tawadhu’

“Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi searing hamba kecuali ketinggian (derajat). Oleh sebab itu tawadhu’lah kamu, niscaya Allah akan meninggikan (derajat)mu….” (HR. Dailami)

Di samping mengangkat derajatnya, Allah memasukkan orang-orang tawadhu’ kedalam kelompok hamba-hamba yang mendapatkan kasih sayang dari Allah Yang Maha Penyayang. Firman-Nya :

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan 25:63)

Bentuk-Bentuk Tawadhu’


Sikap tawadhu’ dalam pergaulan bermasyarakat dapat terlihat antara lain dalam bentuk-bentuk berikut ini :

  1. Tidak menonjolkan diri dari orang-orang level atau statusnya sama, kecuali apabila sikap tersebut menimbulkan kerugian bagi agama atau umat Islam.
  2. Berdiri dari tempat duduknya dalam satu majlis untuk menyambut kedatangan orang yang lebih mulia dan lebih berilmu daripada dirinya, dan mengantarkannya ke pintu keluar jika yang bersangkutan meninggalkan majelis.
  3. Bergaul dengan orang awam dengan ramah, dan tidak memandang dirinya lebih dari mereka.
  4. Mau mengunjungi orang lain sekalipun lebih rendah status sosialnya.
  5. Mau duduk-duduk bersama dengan fakir miskin, orang-orang cacat tubuh, dan kaum dhu’afa lainnya, serta bersedia mengabulkan undangan mereka.
  6. Tidak akan minum dengan berlebihan dan tidak memakai pakaian yang menunjukkan kemegahan dan kesombongan.

Takabbur atau Sombong

“Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain”. (HR. Muslim)

Karena orang yang sombong selalu menganggap dirinya benar dan lebih, maka dia tidak mau menerima kritikan dan nasehat dari orang lain. Dia akan menutup mata terhadap kelemahan dirinya. Dia akan menutup telinganya kecuali untuk mendengarkan pujian-pujian terhadap dirinya.

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (QS. Al-A’raf  7:146)

Karena dia jauh dari kebenaran, maka di akhirat nanti orang-orang yang sombong tidak akan masuk sorga. Rasulullah SAW bersabda :

“Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sebiji zarah sifat sombong.” (HR.Muslim)


Sifat sombong adalah sifat warisan iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam AS. Iblis mengklaim dirinya lebih mulia dari Adam, karena Adam diciptakan dari tanah sedangkan dia diciptakan dari api, padahal-menurut-Iblis-api lebih mulia dari tanah (baca QS.Al-Baqarah 2:34; Al-Hijr 15:28-35). Karena kesombongannya itu pula dia tidak berniat untuk meminta ampun kepada Allah SWT. Oleh sebab itu para Ulama mengatakan sifat sombong adalah induk dosa-dosa.

Bentuk-Bentuk Takabur
    
    Berikut ini adalah beberapacontoh bentuk-bentuk kesombongan dalam pergaulan masyarakat :

1. Kalau mendatangi suatu majlis, dia ingin dan senang kalau para hadirin berdiri
    Menyambutnya, padahal Rasulullah saw menyatakan :

    “Barangsiapa menyenangi orang-orang berdiri menghormatinya, maka bersiap-   
     siaplah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR.Bukhari)

2. Kalau berjalan, dia ingin ada orang yang berjalan di belakangnya, untuk
    Menunjukkan bahwa dia lebih hebat dan lebih mulia dari yang lainnya.

3. Tidak mau mengunjungi orang yang statusnya dianggap lebih rendah dari dirinya.
Dan dia tidak suka kalau orang yang dianggap rendah statusnya itu duduk   berdampingan dengannya atau berjalan disisinya.

4. Merasa malu dan hina mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan kalau berbelanja
tidak mau membawa sendiri barang belanjaannya karena akan merendahkan derajatnya.

Demikianlah seyogyanya searing Muslim selalu berusaha menjadi orang tawadhu’ dan menjauhi segala bentuk kesombongan atau takabur dalam seluruh aspek kehidupannya.

3. MALU

Malu (Al-Haya’) adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut, rendah atau tidak baik dia akan terlihat gugup, atau mukanya merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu, akan melakukannya dengan tenang tanpa ada rasa gugup sedikitpun.

Diceritakan oleh searing sahabat yang bernama Abu Sa’id Al-Khudry bahwa Rasulullah saw jika melihat sesuatu yang tidak disukainya warna muka beliau akan berubah.

“Adalah Rasulullah saw lebih pemalu dari gadis pingitan. Bila melihat sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengetahuinya dari wajah beliau”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Sifat malu adalah akhlaq terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlaq, dan akhlaq Islam itu adalah sifat sifat malu.” (HR. Malik)

Rasa malu adalah sumber utama kebaikan dan unsur kemuliaan dalam setiap pekerjaan. RAsulullah saw bersabda :

“Kekejian itu selalu membuat segala sesuatu menjadi jelek, sebaliknya malu itu selalu membuat segala sesuatu menjadi bagus. “ (HR.Tirmidzi)

Bahkan menurut Rasulullah saw, andai kata sifat malu itu berbentuk manusia, dia akan tampil sebagai searing yang saleh.

“Apabila sifat malu itu diumpamakan menjadi seseorang, maka ia akan menjadi searing yang saleh. Dan andaikata sifat keji itu diumpamakan seseorang, maka dia akan menjadi orang jahat.” (HR.Thabrani)

Sifat malu dapat dibagi kepada tiga jenis.

1. Malu kepada Allah
Seseorang akan malu kepada Allah apabila dia tidak mengerjakan perintah-Nya, tidak menjauhi larangan-Nya, serta tidak mengikuti petunjuk-Nya.
    
    2. Malu kepada diri sendiri
        Orang yang malu terhadap Allah, dengan sendirinya malu terhadap dirinya 
        Sendiri. Ia malu mengerjakan perbuatan salah sekalipun tidak ada orang lain
        yang melihat atau mendengarnya. Penolakan datang dari dirinya sendiri. Ia akan
        mengendalikan hawa nafsunya dari keinginan-keinginan yang tidak baik.

     3. Malu kepada orang lain
         Setelah malu pada dirinya sendiri, dia akan malu melakukan sesuatu yang
         merugikan orang lain.

      Ketiga rasa malu di atas harus ditumbuhkan dan dipelihara terus menerus oleh
     Seorang Muslim. Lebih-lebih lagi malu terhadap Allah SWT, karena malu kepada
     Allah inilah yang menjadi sumber dari dua jenis malu lainnya.

Malu dan Iman                    
   
“Iman itu mempunyai tujuh puluhan cabang, yang paling utama adalah (pernyataan) Tiada Tuhan melainkan Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari tengah jalan. Dan malu adalah salah satu dari cabang iman.” (HR.Bukhari)

“Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu di dalam sorga. Lidah yang keji itu adalah termasuk kebengisan, dan kebengisan itu di dalam neraka. (HR.Tirmidzi)


Akibat Hilangnya Malu

“Sesungguhnya di antara yang didapat oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah: “Jika engkau tidak lagi mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR.Bukhari)

Hilangnya sifat malu adalah awal dari kehancuran dan kebinasaan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan hal itu.

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla, apabila ingin membinasakan seorang hamba, Dia akan mencabut dari dirinya rasa malu, maka engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pembenci lagi dibenci. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pembenci lagi dibenci maka akan dicabut dari dirinya amanah. Apabila dicabut dari dirinya amanah, maka engkau tidak akan mendapatkannya kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati maka akan dicabut dari dirinya rahmah. Apabila dicabut dari dirinya rahmah maka engkau tidak akan mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk maka akan dicabut dari dirinya Islam." (HR. Ibn Majah)


Malu, amanah, rahmah dan Islam, adalah empat hal yang saling berkait. Konsekuensi logis dari hilangnya malu adalah amanah. Bila amanah hilang, akan hilanglah rahmah, dan bila rahmah hilang, hilanglah Islam.

4. SABAR  

Secara etimologis, sabar (ash-shabr) berarti menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf). Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah. Yang tidak disukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak disenangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi bisa juga berupa hal-hal yang disenangi misalnya segala kenikmatan duniawi yang disukai oleh hawa nafsu. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.

Menurut Imam Al-Ghazali, sabar merupakan ciri khas manusia. Binatang dan malaikat tidak memerlukan sifat sabar karena binatang diciptakan tunduk sepenuhnya kepada hawa nafsu, bahkan hawa nafsu itulah satu-satunya yang mendorong binatang untuk bergerak atau diam. Binatang juga tidak memiliki kekuatan untuk menolak hawa nafsunya. Sedangkan malaikat, tidak memerlukan sifat sabar karena memang tidak ada hawa nafsu yang harus dihadapinya. Malaikat selalu cenderung kepada kesucian, sehingga tidak diperlukan sifat sabar untuk memelihara dan mempertahankan kesuciannya itu.

Macam-Macam Sabar

Menurut Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Ash-Shabr fi Al-Qur'an, sabar dapat dibagi kepada enam macam :

1. Sabar Menerima Cobaan Hidup
2. Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu
3. Sabar dalam ta'at kepada Allah SWT
4. Sabar dalam Berdakwah
5. Sabar dalam Perang
6. Sabar dalam Pergaulan

Keutamaan Sabar

Sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang istimewa. Al-Qur'an mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya.
Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga menempati posisi yang istimewa. Misalnya dalam menyebutkan orang-orang beriman yang akan mendapat sorga dan keridhaan Allah SWT, orang-orang yang sabar ditempatkan dalam urutan pertama sbelum yang lain-lainnya. perhatikan firman Allah berikut ini :

"Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah beriman, Maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (QS. Ali-Imran 3:15-17)

Jaza'u

Lawan dari sifat sabar adalah al-jaza'u yang berarti gelisah, sedih, keluh kesah, cemas dan putus asa.

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat," (QS.Al-Ma'arij 70: 19-22)

Ketidaksabaran dengan segala bentuknya adalah sifat yang tercela. Orang yang dihinggapi sifat ini, bila menghadapi hambatan dan mengalami kegagalan akan mudah goyah, berputus asa dan mundur dari medan perjuangan. Sebaliknya apabila mendapatkan keberhasilan juga cepat lupa diri. Menurut ayat di atas, kalau ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, kalau mendapat kebaikan ia amat kikir. Semestinyalah setiap Muslim dan Muslimah menjauhi sifat yang tercela ini.



J. PEMAAF

Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al-'afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau yang berlebih, sebagai mana terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 219 :

"Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan.."(QS. Al-Baqarah 2:219)

Yang berlebihan seharusnya diberikan agar keluar. Dari pengertian mengeluarkan yang berlebih itu, kata al-'Afwu kemudian berkembang maknanya menjadi menghapus. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati.

Sifat pemaaf adalah salah satu dari manifestasi ketaqwaan kepada Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya :

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
 (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Islam mengajarkan kepada kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah. Menurut M. Quraish Shihab, tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.

Lapang Dada

"......Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Maidah 5:13)

"......Hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?......" (QS.An-Nur 24:22)

Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut dengan As-Shafhu yang secara etimologis berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini ash-shafhu dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahah karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada.

Dendam

 Lawan dari sifat pemaaf adalah dendam, yaitu menahan rasa permusuhan di dalam hati dan menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang yang pendendam tidak akan mau memaafkan kesalahan orang lain sekalipun orang tersebut meminta maaf kepadanya. Bagi dia, tidak ada maaf sebelum dia dapat kesempatan membalaskan sakit hatinya.

Orang yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah SWT. Allah SWT sendiri Yang Maha Kuasa berjanji akan memberikan maaf  dan ampunan kepada setiap orang yang meminta ampun kepada-Nya. Apa alasan manusia yang dha'if  untuk tidak memberikan maaf kepada sesama.

Abu Bakar RA pernah bertekad untuk menghentikan bantuan keuangan kepada kerabatnya ataupun orang lain yang ikut terlibat menyiarkan berita bohong yang disebarluaskan oleh orang-orang munafik Madinah untuk menjatuhkan nama 'Aisyah binti Abi Bakr, dan untuk seterusnya tentu akan merusak nama baik Rasulullah saw sendiri sebagai suami 'Aisyah. Allah SWT menurunkan firman-Nya menegur tekad Abu Bakar tersebut :

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur 24:22)

Sifat pendendam tidak hanya merusak pergaulan bermasyarakat tapi juga merugikan dirinya sendiri. Energi akan terkuras dalam memelihara dan berusaha untuk melampiaskan dendamnya. Setiap kali dia melihat orang yang dia dendami, atau bahkan hanya melihat rumah, kantor atau kendaraannya saja, hatinya sakit dan semangat membalas dendamnya meluap-luap. Hal itu tentu akan menguras energinya dan membuat dia kelelahan. Oleh sebab itu jauhilah sifat pendendam betapapun kecilnya.

Andaikata seseorang tidak mampu menguasai marahnya segera terhadap orang lain yang menyakiti atau menyinggung perasaannya, dia boleh menghindar untuk menenangkan dan menguasai nafsu marahnya. Rasulullah saw memberi waktu tiga hari, karena tiga hari tersebut dianggap sudah cukup untuk meredakan kemarahan. Setelah itu dia wajib kembali menyambung tali persaudaraan dan persahabatan sesama Muslim. Rasulullah saw bersabda :

"Tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari \; keduanya bertemu tapi saling memelingkan mukanya. Dan yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai lebih dahulu mengucapkan salam." (HR. Muttafaqun 'Alaih)


Referensi :

Drs. H. Yunahar Ilyas. LC., MA, Kuliah Akhlaq ,Hal 116-144. LPPI, 1999




*Disusun Sebagai Tugas mata kuliah Akhlak
Nomor Mahasiswa : 20090720001