Materi Pendidikan Kewirausahaan : Motivasi Wirausaha



A.    Teori Motivasi
Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah dorongan, kebutuhan, keinginan, dorongan atau impuls. Motivasi tergantung kepada kekuatan motifnya. Motif dengan kekuatan terbesarlah yang akan menentukan perilaku  seseorang. Motif yang kuat mungkin saja berkurang apabila telah mencapai kepuasan atau mengalami kegagalan (Alma, 2005).
Terdapat beberapa teori motivasi yang memiliki sudut pandang berbeda, antara lain:
1.  Hirarki Kebutuhan Maslow
Merupakan teori motivasi yang paling popular. Maslow membuat urutan kebutuhan manusia, dengan asumsi bahsa kebutuhan seseorang tergantung dari apa yang telah dipunyainya, dan kebutuhan merupakan hirarki berdasar kepentingannya. Hirarki tersebut terbagi menjadi 5 tingkatan, yaitu:





Perwujudan diri



Penghargaan



Sosial



Kemanan



Fisiologis





Gambar 4: Hirarki Kebutuhan Maslow (Sumber: Alma, 2005)
 

            Bila 1 kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul tingkat kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan yang lebih rendah tidak harus terpenuhi secara total, bisa saja setelah sebagian kebutuhan terpenuhi kebutuhan diatasnya muncul.
-          Kebutuhan fisiologis : makanan, udara,istirahat, sex, rumah, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya dan perlindungan dari unsur-unsur itu
-          Kebutuhan keamanan : bebas dari rasa takut, perlindungan terhadap bahaya, ancaman dan kemiskinan
-          Kebutuhan sosial : afiliasi, asosiasi, diterima dalam persahabatan, kasih sayang
-          Kebutuhan penghargaan : prestasi tinggi, kompetensi, kreativitas, dan kemandirian pribadi (Irianto, 2005)
-          Kebutuhan perwujudan diri : prestasi tinggi, eksistensi dalam bidang yang digeluti atau peran yang dilakukan

2. Teori Motivasi Hawthorne
Merupakan hasil penelitian Elton Mayo di Hawthorne Illinois, Western electronic Coy yang dimulai pada tahun 1924. Hasil penelitian menemukan bahwa untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan, perlu adanya faktor human relation. Jika karyawan mendapat perlakukan khusus secara pribadi maka produktivitasnya akan meningkat. Dapat disimpulkan bahwa hubungan personal ataupun penghargaan teerhadap pribadi maupun kelompok akan berpengaruh terhadap motivasi kerja seseorang. Oleh karena itu  perhatian, penghargaan  dan hubungan personal yang dibina oleh seorang wirausaha kepada anak buah maupun rekan kerjanya.

3. Teori X dan Y Mc.Gregor
Teori X mengasumsikan bahwa kebanyakan orang lebih suka dipimpin, tidak punya tanggungjawab dan ingin selamat saja. Mereka dimotivasi oleh uang, keuntungan dan ancaman hukuman. Manajer yang menganut teori x akan menganut system pengawasan dan disiplin yang ketat terhadap para pekerja.
Teori Y mengasumsikan bahwa seseorang menjadi malas bukan karena bakat atau pembawaan sejak lahir. Semua orang sebenarnya bersifat kreatif. Tugas pimpinan untuk merangsang dan membangkitkan kreativitas karyawannya.
Teori X dan Y dapat membantu memetakan kecenderungan orang. Misalnya seseorang yang sebetulnya menganut teori Y, tapi ketika ia menjadi pemimpin ia perlu juga melakukan pendekatan sesuai teori X, misalnya dalam mengawasi para pekerja.

4. Teori pola A dan pola B Arygyris
Teori pola A beranggapan bahwa orang atau individu tidak punya perasaan, tidak terbuka, suka menolak eksperimen dan tidak mau menolong orang lain. Teori pola B beranggapan bahwa setiap orang memiliki perasaan, punya tenggang rasa, bersifat terbuka, mau melakukan eksperimen dan mau menolong orang lain. Agryrys menyatakan meskipun pola A serupa dengan teori X dan pola B serupa dengan teori Y, sebenarnya tidak selalu demikian. Dalam keadaan tertentu pola A bisa berhubungan dengan teori Y dan pola B bisa berhubungan dengan teori X. Kombinasi XA, XB, atau YA dan YB bisa saja terjadi.

5. Teori Hygiene Herzberg
Merupakan hasil studi Herzberg di Pittsburgh.  Herzbergh menginterview insinyur dan akuntan tentang hal-hal apa saja yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam pekerjaan. Dari penelitian ini ditemukan ada 2 kategori yang mempengaruhi perilaku. Kategori pertama disebut faktor hygiene, yaitu faktor lingkungan yang mempengaruhi ketidakpuasan dalam melakukan pekerjaan. Rincian faktor hygiene antara lain:
·                     Administrasi dan kebijaksanaan
·                     Supervise
·                     Kondisi kerja
·                     Hubungan interpersonal
·                     Uang, status, security
      Kategori kedua disebut dengan faktor motivator, yaitu hal-hal yang memotivasi orang untuk bekerja. Hal-hal yang termasuk faktor motivator antara lain:
  • Prestasi
  • Penghargaan
  • Tantangan pekerjaan
  • Bertambah tanggungjawab
  • Ada kemungkinan pengembangan diri

6. Teori Motivasi Model Porter dan Lawyer
Pada gambar di atas ditunjukkan bahwa upaya tergantung pada nilai imbalan serta probablitas untuk memperoleh imbalan tersebut. Sebaliknya, persepsi upaya dan proabilitas imbalan dipengaruhi juga oleh hasil penampilan sesungguhnya. Jelas bahwa bila seseorang tahu dia mampu mengerjakan suatu tugas atau punya pengalaman mengerjakannya maka dia memiliki perkiraan yang lebih baik mengenai upaya yang dibutuhkan dan probabilitas imbalannya.
Penampilan sesungguhnya dari suatu pekerjaan ditentukan oleh upaya yang dicurahkan serta dipengaruhi oleh kemampuan untuk melaksanakan dan persepsinya tentang tugas. Penampilan, sebaiknya dilihat dari imbalan intrinsik (misalnya rasa keberhasilan dan aktualisasi diri) dan imbalan ekstrinsik (seperti kondisi kerja dan status). Setelah imbalan diangggap seimbang, maka terjadilah kepuasan. Model motivasi Porter dan Lawyer ini lebih kompleks dari teori motivasi lainnya tetapi jelas memberi gambaran yang lebih lengkap dari sistem motivasi.
            Dalam organisasi bisnis, para wirausahawan harus menilai struktur imbalan dengan hati-hati melalui perencanaan yang teliti, dan uraian yang jelas tentang tugas-tugas.

7. Teori Prestasi Mc Clelland
Pada dasarnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga kebutuhan:
a.       Kebutuhan akan kekuasaan (need for power)
b.      Kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation)
c.       Kebutuhan akan keberhasilan (need for achievement)
            Teori ini mencoba menjelaskan perilaku manusia yang berorientasi pada prestasi. Menurut teori tersebut, seseorang yang mempunyai need for achievement yang tinggi selalu mempunyai pola pikir tertentu, ketika ia merencanakan untuk melaksanakan sesuatu, selalu mempertimbangkan apakah perkerjaan yang akan dilakukan cukup menantang atau tidak. Seandainya pekerjaan itu cukup memberikan tantangan, maka kemudian ia memikirkan kendala-kendala apa yang mungkin dihadapi dalam pencapaian tujuan, strategi apa yang dapat digunakan, untuk mengatasi kendala dan mengantisipasi konsekuensinya.
            Ciri lain dari need for achievement adalah kesediaannya untuk memikul tanggungjawab sebagai konsekuensi usahanya, berani mengambil resiko yang sudah dperhitungkan, kesediaannya untuk mencari informasi, untuk mengukur kemajuannya, dan menginginkan kepuasan dari apa yang telah dikerjakannya. Mc Clelland juga memperkenalkan konsep tentang kompetensi, yang kemudian menjadi dasar munculnya konsep pengembangan sumberdaya manusia berbasis kompetensi (competency Based Human Resources Development). Menurutnya kompetensi terdiri dari 6 elemen yakni keterampilan (skills), pengetahuan (knowledge), peran social (social roles), citra diri (self image), sifat (traits) dan motif (motives) (Sutomo, 2007).




8. Teori Z ,Ouchi
            William G.ouchi (1982) meneliti rahasia kesuksesan yang dinikmati oleh perusahaan Jepang. Penelitian ini menemukan bahwa produktivitas dan kepercayaan saling bergandengan. Ouchi kemudian memberikan gambaran organisasi tipe-Z, sebagai berikut:
·         Mengharapkan pekerja akan bekerja seumur hidup di perusahaan tersebut
·         Bekerja dengan penuh rasa intim, seperti sebuah clan (paguyuban)
·         Penuh dengan system informasi mutakhir
·         Keputusan diambil secara kolektif
·         Tidak menetapkan laba sebagai tujuan akhir, laba dipandang sebagai imbalan terhadap perusahaan yang telah melayani konsumen dengan baik dan benar, yang telah memberi hidup yang layak pada karyawannya, dan cukup bertanggungjawab sebagai warga
·         Menganut sifat egalitarian
      Teori-teori motivasi di atas dapat membantu seorang wirausaha mengembangkan strategi untuk meningkatkan motivasi baik untuk diri sendiri maupun orang lain (terutama apabila dalam usaha yang dilakukan terdapat karyawan/anak buah). Seseorang yang belum memulai usahanya dan baru akan memulai berwirausaha, bisa mempelajari beragam teori mengenai motivasi namun yang lebih penting adalah menumbuhkan motivasi dalam diri untuk berwirausaha.

B.     Menumbuhkan Minat Wirausaha
Minat seseorang untuk berwirausaha bisa muncul dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal).
Faktor internal antara lain :
1.      Merasa tidak puas dengan pekerjaan atau aktivitas yang saat ini digeluti, sehingga ingin punya aktifitas yang lebih mengasyikkan/menantang
2.      Senang coba coba
3.      Keinginan kuat untuk mandiri (tidak tergantung pada orang lain)
4.      Keinginan kuat untuk  mewujudkan mimpi, ide atau inovasinya
5.      Minat dan komitmen tinggi terhadap wirausaha
            Faktor eksternal antara lain
1.    Kehilangan pekerjaan
2.    Ada sumber daya  yang sayang kalau tidak dimanfaatkan, misalnya ada lokasi strategis, mendapat modal, warisan, dll
3.    Mengikuti latihan atau inkubator bisnis, lalu mendapatkan tugas untuk mengembangkan usaha
4.    Ada relasi atau rekanan yang membuka peluang usaha, atau bisa diajak bekerjasama
5.    Dorongan dari keluarga, teman atau kerabat.
Dari kedua faktor tersebut, faktor internal memiliki  peranan yang lebih kuat. Bisa saja seseorang awalnya termotivasi untuk berwirausaha karena adanya faktor eksternal, namun dukungan faktor internal tetap diperlukan untuk menjaga konsistensinya dalam merintis usahanya tersebut. Misalnya, Mr.X  merintis usaha karena baru saja kehilangan pekerjaan. Dalam merintis usaha tentu saja Mr.X menemui berbagai halangan, seandainya motivasi dalam diri Mr.X tidak cukup kuat (misalnya tidak  punya keinginan kuat untuk mandiri, komitmen untuk berwirausaha rendah) tentu akan mudah menyerah menghadapi kegagalan yang ditemui. Sebaliknya jika Mr.X memiliki motivasi yang tinggi rintangan hanyalah dianggap sebagai sandungan kecil yang tidak akan membuatnya berhenti melangkah. Seorang wirausaha sebaiknya senantiasa berupaya menumbuhkan minat dari dalam dirinya agar selalu termotivasi untuk mengelola usahanya dengan lebih baik dan lebih baik lagi. Beberapa upaya yang dapat  dilakukan untuk membangun minat berwirausaha antara lain:

1.      Mengenali dampak positif dari wirausaha
      Minat akan tumbuh apabila seseorang mampu melihat keuntungan dari dampak positif dari sesuatu. Seseorang akan tertarik untuk menekuni dunia wirausaha apabila dirinya melihat dampak positif yang akan didapat dari wirausaha. Beberapa contoh dampak positif wirausaha dalam kehidupan seseorang adalah:
a.       Menambah penghasilan
b.      Lebih bebas berekspresi
c.       Menjadi pimpinan, pembuat aturan
d.      Bisa bekerja dengan waktu dan tempat yang lebih fleksibel
e.       Dapat mengeksplorasi ide-ide kreatif
f.       Mengembangkan idealisme (misalnya seorang pecinta lukisan batik, membuka gerai lukisan batik dengan harapan lukisan batik lebih dikenal luas dimana-mana).
      Dampak positif wirausaha mungkin berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada kebutuhannya.

2.  Menajamkan mission statement, tujuan, perencanaan tertulis
      Visi dan misi bisa dituliskan dalam kalimat yang mudah diingat, dan kemudian bisa menjadi motto serta penyemangat disaat lemah. Misalnya “layanan perawatan kecantikan terbaik bagi wanita berjilbab”. Tulisan tersebut dikenal dengan mission statement atau pernyataan misi yang mengingatkan seseorang kepada tujuannya.

3.  Memulai usaha dari bidang yang disukai, dibutuhkan atau sesuai dengan concern (kepedulian utama).
      Misalnya orang yang suka membuat brownies, bisa mulai dengan usaha brownies, sehingga kalaupun belum bisa mengeruk untung besar, setidaknya bisa menyalurkan hobi. Ada juga wirausaha yang memulai usaha berdasar apa yang menjadi kebutuhannya. Misalnya Dewi Hughes yang awalnya kesulitan mendapatkan pakaian jadi yang sesuai ukuran tubuhnya, lalu membuka butik yang khusus menyediakan pakaian untuk wanita bertubuh besar. Selain menjual produk untuk dibeli orang lain, butik ini juga sekaligus untuk memenuhi kebutuhannya. Usaha pada bidang yang disukai menimbulkan rasa cinta pada apa yang dilakukan, kecintaan tersebut memberikan dampak cukup besar untuk memotivasi seseorang dalam melakukan sesuatu.


4.  Membangun dukungan
      Minat dari dalam diri untuk berwira usaha bisa saja redup atau bahkan padam saat menemui sandungan. Dukungan dari orang-orang terdekat atau yang dipercaya akan sangat bermanfaat untuk menyalakan minat itu kembali, Dukungan bisa berupa dukungan moril, misalnya memberikan semangat, nasehat, pandangan (beberapa orang membutuhkan second opinion sebelum mengambil keputusan), tempat berkeluh kesah/curhat, dan lain sebagainya. Dukungan bisa juga berupa rekanan kerja atau partner, misalnya usaha join dengan teman atau saudara, tenaga kerja, jaringan pemasaran dan sebagainya. Dukungan material juga memiliki peran oentung, misalnya support modal, pinjaman tempat, kendaraan, dsb. Maka dalam menjalankan usahanya seorang wirausaha perlu mengidentifokasi pihak mana saja yang dapat memberikan dukungan, dengan begitu ia dapat berbagi beban dan tidak merasa berjuang sendirian.

5.      Membekali diri
      Keterampilan memberikan kontribusi cukup besar bagi seorang wirausaha. Keterampilan tidak saja mampu meningkatkan kinerja seseorang, tapi juga memberikan rasa percaya diri dalam menjalankan usahanya. Keterampilan bisa berupa hal-hal yang berkaitan langsung dengan usahanya, maupun yang tidak berkaitan langsung tapi mendukung kelancaran usahanya. Misalnya seseorang membuka usaha jasa konsultan tanaman hias, maka ia perlu mengetahui seluk beluk merawat, menyuburkan, menanggulangi hama dan penyakit, sampai pada pasar tanaman hias, yang merupakan keterampilan yang berhubungan langsung dengan usahanya. Namun apabila ia memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara melayani konsumen dengan baik, menata interior kantor dengan baik, mengenali jenis-jenis konsumen, mengetahui cara berpenampilan sehingga meyakinkan, tentu akan sangat mendukung usahanya. Seorang wirausaha yang baik akan selalu berusaha mengembangkan dirinya, sehingga keterampilannya senantiasa bertambah. Lebih dari itu, penambahan pengetahuan akan memotivasi wirausahawan untuk mencoba ide baru baik terhadap produk maupun system yang dijalankan sehingga minatnya terhadap usaha yang digeluti akan semakin besar.
6.  Bersikap positif terhadap kegagalan
      Wirausaha yang sukses biasanya memiliki kisah gagal di balik kesuksesannya. Dunia usaha penuh dengan coba-coba, dimana gagal tentu saja menjadi salah satu resikonya. Tidak sedikit wirausahawan yang menemukan bisnis yang cocok setelah berkali-kali berganti usaha dan gulung tikar. Sikap positif terhadap kegagalan sangat diperlukan agar minat untuk wira usaha tidak hilang setelah menemui kegagalan yang pertama. Seorang wira usaha perlu memiliki kebiasaan untuk belajar dari pengalaman yang kurang mengenakkan, sehingga bisa memulai lagi usaha dengan persiapan yang lebih matang.

7.  Berserah diri pada Alloh SWT
            Terakhir tapi tidak kalah pentingnya, harus tertanam dalam diri seorang wirausaha bahwa rizki adalah kuasa Alloh SWT. Manusia harus berikhtiar untuk mendapatkan rizki itu, namun Alloh SWT lebih tahu porsi yang pas untuk hamba-Nya. Berserah diri pada Alloh SWT bukan berarti pasrah dan menyalahkan takdir atas kegagalan yang dialami, tapi berserah diri terhadap apa yang dikehendaki Alloh SWT, memohon pertolongan-Nya, dan bersyukur untuk apapun yang diterima. Seorang wirausaha yang berserah diri pada Alloh SWT, akan berusaha dengan keras untuk mendapatkan hasil terbaik, tapi juga lebih tenang karena memiliki tempat bergantung yang Maha Kuasa, serta tidak mudah stress apabila menghadapi sandungan karena ia percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuknya.

C.    Menjadi Wirausaha Sukses
Ahli maupun praktisi di bidang wirausaha banyak memberikan tips bagi para pemula di bidang usaha agar bisa menjadi wirausaha sukses. Berikut ini beberapa tips yang dapat dipraktekkan oleh para pemula di bidang wirausaha.       Winarto dalam Susilo (2005) mengungkapkan kunci sukses wirausaha, antara lain:


1.      Reputasi
Senantiasa menjaga reputasi (nama baik). Ini sangat penting sebab tanpa nama baik seseorang tidak mungkin mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
2.      Tumbuh dari bawah
Sukses dimulai dari langkah kecil, bahkan mungkin dari nol. Sukses tidak mungkin dicapai secara instant. Perlu perjuangan untuk bisa meraihnya
3.      Konsentrasi
Bila seseorang telah memutuskan untuk masuk ke bidang tertentu, ia harus focus dan berkonsentrasi.
4.      Anti crowded/ kerumunan
Tidak menjadi pengikut, tidak terjun ke dalam tempat atau bidang yang telah banyak dimasuki orang lain (latah).

Kesuksesan seorang wira usaha sangat dipengaruhi oleh karakter yang dimilikinya. Meski begitu, memiliki karakter yang sesuai saja tidaklah cukup untuk membawa seseorangmenjadi wirausahawan sukses. Kemauan dan kerja keras memiliki sumbangan yang tidak kelah besarnya. Kombinasi antara karakter dan kemauan yang kuat akan membantu seorang mengerahkan keterampilannya sehingga menjadi wirausaha sukses. Berikut beberapa tips dari Sutomo ( 2007) yna merupakan hasil penelitian Timmon, agar seseorang dapat menjadi wirausaha unggul. Apabila disimak, beberapa dari tips tersebut sesuai dengan karakter wirausaha yang telah dibahas sebalumnya:

1.      Total komitmen. Determinasi dan kesabaran
            Seorang wira usaha, terutama pada fase awal membangun bisnis akan memberikan waktunya sepenuhnya untuk usahanya. Seorang ibu yang berbisnis catering rela bangun sebelum subuh untuk berbelanja dan memasak. Determinasi, keyakinan akan bisnis yang dijalani. Tidak peduli pandangan dan cemoohan orang, tak peduli hasil-hasil jangka pendek, wirausahawan perlu tetap teguh atas keyakinan menjalankan bisnisnya. Selain itu kesabaran sangat diperlukan, karena umumnya hasil baru diperoleh dalam jangka waktu lama, sementara dalam jangka pendek ia perlu mengeluarkan banyak biaya

2.      Orientasi peluang dan sasaran
Wirausahawan harus jeli melihat peluang dari setiap perubahan. Bagi orang lain itu ancaman, bisa saja baginya itu peluang. Sasaran sangat penting karena akan menjadi motivator bagi sebagian besar pesiis. Hampir sebagian besar psbisnis sukses punya tujuan yang jelas dalam hidupnya. Tanpa tujuan sulit dibayangkan seseorang dapat punya motivasi dan ketahanan dalam dunia bisnis.

3.      Berani berinisiatif dan mengambil tanggungjawab pribadi
Keistimeewaan seorang wirausahawan yang tidak dimiliki karyawan adalah kebebasa. Kebebasan itu tidakl dimaknai sebagai keleluasaan untuk bertindak semaunya, melainkan bebas dalam mengambil inisiatif untuk menjlankan ide-ide produktif serta berani bertanggung jawab secara pribadi atas segala akibat dan dampak dari inisiatifnya itu.


4.      Pemecah masalah yang ulet
            Menghadapi masalah yang kompleks adalah pekerjaan sehari-hari pebisnis. Mulai dari aspek pasar, pendanaan, produksi, SDM, ditangai oleh pewirausaha seorang diri. Hanya keyakinan terhadap tujuan yang membuat wirausahawan mampu mengurai semua persoalan yang muncul silih berganti dan mencari solusi-solusi yang cocok.

5.      Mencari dan memanfaatkan umpan balik
            Wirausahawan harus berpijak pada dunia nyata, dan diunia nyata yang paling penting adalah pelanggan dan karyawan. Ke luar, umpan balik harus terus menerus dicari dan dimanfaatkandalam pengembangan produk dan perbaikan layanan. Ke dalam, umpan balik karyawan harus difasilitasi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk peningkatan kinerja perusahaan.

6.      Internal focus of control
            Yaitu orang yang terkendali secara internal, yang memiliki keyakinan bahwa nasibnya sebagian besar tergantung dari dirinya sendiri. Keyakinan yang kuat terhadap diriinilah yang membuat seorang wirausahawan banyak berorientasi “bertindak mulai dari diri sendiri, dan sekarang juga”.  Tindakan-tindakan konkret itulah yang kemudian menentukan nasibnya.

7.      Pencari resiko moderat
            Wirausaha perlu lebihh berani mengambil resiko disbanding orang kebanyakan. Dengan keberanian ini ia berani memulai bisnis atau mengembangkannya. Seorang wirausaha perlu menimbang resiko dengan matang. Perilaku orak kanan radikal yang impulsive sangat berbahaya bagi bisnis. Resiko moderatlah yang diambil berdasarkan pertimbangan pasar dan sumberdaya yang dimiliki. Kebanyakan wirausaha memodali sendiri usahanya atau pinjaman yang harus dipertanggungjawabkan. Perhitungan yang matang atas resiko tetap diperlukan tanpa menghilangkan kegairahan melihat ganjaran yang panas apabila bisnisnya menghasilkan.

8.      Kreatif realistis
            Kreativitas bisnis berbeda dengan kreativitas seniman yang sering tak berpijak di bumi. Kreativitas bisnis harus dapat diterima oleh masyarakat luas sebagai nilai-nilai yang memberi manfaat.oleh Dough Hall, ini disebut orientasi otak seimbang, dapat berimajinasi tapi juga mampu mengimplementasi. Pada kondisi sekarang yang menuntut perubahan dan temuan-temuan yang berbeda dengan yang sebelumnya sudah ada, wirausaha yang kreatif realistis memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses.

D.    Inti Wirausaha
Inti dari jiwa kewirausahaan adalah jiwa yang mampu menciptakan nilai tambah dari keterbatasan (Suharno, 2008).  Inti dari wirausaha sendiri, dikenal dengan konsep CORE, yaitu :
CURIOUSITY  : Seseorang harus memiliki rasa keingintahuan yang besar  sebelum menjadi wira usaha yang baik
OPENNES         : Harus memiliki keterbukaan berpikir tanpa melakukan pretense atau mencurigai sesuatu
RISK                  : Keberanian untuk mengambil resiko
ENERGY          : Memiliki daya juang “warior” yang memiliki energi yang tinggi untuk mencapai sukses. (Susilo, 2005)

Sutomo (2007) mengulas 4 keutamaan individiu pebisnis yang ditulis oleh Robert C.Solomon, yaitu:
1.      Kejujuran
            Kejujuran dianggap sebagai sifat utama yang harus dimiliki oleh wirausahawan. Wirausahawan sejati akan bersifat jujur  walaupun ada kesempatan untuk berbuat tidak jujur. Banyak bidang yang menyangkut teknis yang rumit sehingga  sangat memungkinkan pedagang untuk berbohong, misalnya jual beli computer, jasa reparasi barang elektronik, dll. Kejujuran menjamin kelangsungan usaha dalam jangka panjang. meskipun dengan berbohong seorang wirausaha bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda, namun akan membuat pelanggan jera dan latti ke wirausaha yang lain.
2.      Kewajaran
            Adalah kesediaan memberikan apa yang wajar atau yang bisa diterima kepada semua pihak yang terlibat dalam transaksi
3.      Kepercayaan
            Ditempatkan dalam hubungan timbale balik, saling percaya. Wirausaha yang memiliki keutamaan ini bersedia menerima mitranya sebagai pihak yang dapat diandalkan. Kepercayaan dibangun kerena pengalaman dan reputasi. Misalnya pada usaha eksport import, dimana wirausaha tidak bertatap muka dengan pelanggan, hanya dihubungkan dengan media komunikasi.
4.      Keuletan
            Ketahanan terhadap berbagai situasi sulit. Hal ini yang membuat pebisnis dapat bangkit lagi setelah menderita kegagalan berulang-ulang. Wirausaha yang berhasil umumnya amat tahan terhadap situasi yang bergejolak bahkan seringkali tak terkendali.

Dengan semakin berkembangnya dunia wirausaha, pelaku usaha seyogyanya tetap menjunjung nilai-nilai etika keutamaan yang dapat menjamin kelanggengan usaha dalam jangka panjang. Sebagai seorang wirausaha, nilai-nilai keutamaan tersebut hendaknya tidak dianggap sebagai hambatan melainkan tantangan untuk mencapainya agar usaha dapat berjalan berkelanjutan. Dengan demikian secara batin kesuksesan usaha akan diimbangi dengan kebahagiaan rohani.